Kemenpora Sambut Baik Rencana Kerja Sama dengan Pemuda Parlemen Indonesia

JAKARTA — Pemuda Parlemen Indonesia (PPI) melakukan audiensi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) pada Selasa, 6 Oktober 2026. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari langkah PPI dalam membangun komunikasi kelembagaan sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah di bidang kepemudaan. Audiensi berlangsung pada pukul 10.00 hingga 11.30 WIB dan dihadiri oleh perwakilan Kemenpora RI serta delegasi PPI.

Dari pihak Kemenpora RI, audiensi dihadiri oleh Yossi Ahmad Falah, Fikri, Rafee, dan Frisky. Sementara itu, delegasi PPI terdiri atas Direktur Eksekutif PPI, Ir. Saripudin, S.T., bersama Agung, Naufal, dan Ilham. Pertemuan tersebut membahas rencana pengembangan kerja sama antara PPI dan Kemenpora RI, termasuk peluang kolaborasi serta sejumlah aspek kelembagaan dan administratif yang perlu dipersiapkan untuk proses tindak lanjut.

Salah satu hasil utama audiensi tersebut adalah sambutan positif dari Kemenpora RI melalui Biro Hukum dan Kerja Sama terhadap rencana kerja sama yang akan dibangun bersama PPI. Kemenpora RI memandang rencana tersebut sebagai salah satu peluang untuk memperkuat upaya pengembangan pemuda Indonesia agar menjadi generasi yang unggul dan berdaya saing, baik di tingkat nasional maupun global.

Respons positif tersebut menjadi momentum bagi PPI untuk melanjutkan komunikasi dengan Kemenpora RI sekaligus mempersiapkan langkah-langkah berikutnya secara kelembagaan. PPI memandang bahwa pengembangan potensi pemuda membutuhkan ruang kolaborasi yang mempertemukan pemerintah dengan berbagai organisasi, komunitas, dan kelompok kepemudaan.

Pemerintah memiliki kebijakan dan program yang dapat mendukung pengembangan generasi muda. Di sisi lain, organisasi kepemudaan mempunyai pengalaman, jaringan, gagasan, serta akses langsung kepada berbagai kelompok anak muda. Kolaborasi antara pemerintah dan organisasi kepemudaan diharapkan dapat memperluas jangkauan serta meningkatkan dampak berbagai agenda pengembangan pemuda.

Yossi Ahmad Falah menyampaikan bahwa pemuda memiliki posisi penting dalam pembangunan Indonesia. Oleh karena itu, ruang kolaborasi dan partisipasi generasi muda perlu terus diperkuat melalui keterlibatan berbagai pihak, termasuk organisasi dan komunitas kepemudaan.

“Pemuda mempunyai posisi yang sangat penting dalam pembangunan Indonesia. Karena itu, ruang kolaborasi dan partisipasi pemuda perlu terus diperkuat. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Dibutuhkan keterlibatan organisasi, komunitas, dan berbagai elemen pemuda agar potensi yang dimiliki generasi muda dapat berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar,” ujar Yossi.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi yang memiliki arah, tujuan, dan manfaat yang jelas bagi pengembangan pemuda. Menurutnya, setiap rencana kerja sama perlu dirumuskan dengan baik agar pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta mampu memberikan manfaat bagi generasi muda Indonesia.

“Kami menyambut baik inisiatif dan komunikasi yang dibangun Pemuda Parlemen Indonesia. Yang terpenting ke depan adalah bagaimana rencana kerja sama tersebut dapat dirumuskan dalam bentuk yang jelas, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan memberikan manfaat bagi pengembangan pemuda Indonesia,” sambung Yossi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Pemuda Parlemen Indonesia, Ir. Saripudin, S.T., mengatakan bahwa audiensi dengan Kemenpora RI merupakan bagian dari langkah PPI untuk membangun komunikasi yang baik sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah.

Menurut Saripudin, komunikasi dan hubungan kelembagaan dengan berbagai pemangku kepentingan diperlukan agar pemuda memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan diri, bertukar gagasan, memperluas jaringan, serta mengambil bagian dalam pembangunan bangsa.

“Bagi PPI, audiensi ini merupakan langkah awal untuk membangun kolaborasi yang lebih konkret. Kami ingin membangun komunikasi yang baik dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan agar pemuda memiliki ruang yang lebih luas untuk belajar, menyampaikan gagasan, membangun jejaring, serta memberikan kontribusi bagi bangsa,” ujar Saripudin.

Ia menjelaskan bahwa PPI tidak ingin memandang kerja sama hanya dalam konteks penyelenggaraan kegiatan bersama. Lebih dari itu, kolaborasi diharapkan dapat menjadi ruang yang mempertemukan gagasan dan aspirasi generasi muda dengan kebijakan, program, serta sumber daya yang tersedia.

“Kami ingin setiap kolaborasi memiliki manfaat yang nyata. Karena itu, yang sedang kami bangun bukan hanya hubungan kelembagaan, tetapi ruang kolaborasi yang memungkinkan gagasan pemuda dapat bertemu dengan kebijakan, program, dan sumber daya yang tersedia,” sambungnya.

Saripudin menambahkan bahwa PPI akan mengikuti proses dan mekanisme yang diperlukan dalam membangun kerja sama dengan Kemenpora RI. Seluruh tahapan tersebut akan dipersiapkan sesuai dengan arahan yang disampaikan dalam audiensi, termasuk pemenuhan persyaratan administrasi dan substansi yang dibutuhkan.

“Kami menghargai arahan yang disampaikan Kemenpora. Selanjutnya PPI akan mempersiapkan seluruh kebutuhan administrasi dan substansi yang diperlukan. Kami ingin proses ini berjalan dengan baik, tertib, dan sesuai dengan ketentuan kelembagaan,” tambah Saripudin.

Meski mendapat sambutan positif, audiensi tersebut belum menghasilkan perjanjian kerja sama resmi antara PPI dan Kemenpora RI. Berdasarkan hasil pertemuan, bentuk kerja sama yang akan dibangun masih memerlukan pembahasan lebih lanjut. Hal ini diperlukan agar ruang lingkup kerja sama, mekanisme pelaksanaan, hak dan kewajiban masing-masing pihak, serta bentuk kegiatan yang akan dijalankan dapat dirumuskan secara jelas.

Pembahasan lanjutan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa rencana kolaborasi memiliki landasan kelembagaan yang tepat. Dengan perencanaan yang matang, kerja sama yang nantinya disepakati diharapkan dapat berjalan sesuai ketentuan dan memiliki tujuan yang terukur.

Dalam pertemuan tersebut, turut dibahas mengenai mekanisme pengajuan dukungan untuk penggunaan logo Kemenpora RI, pelaksanaan kegiatan, maupun pemanfaatan fasilitas kementerian. Kemenpora RI menyampaikan bahwa dukungan tersebut perlu diajukan secara resmi dengan melampirkan proposal kegiatan.

Pengajuan tersebut ditujukan kepada Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) untuk mendapatkan arahan dan tindak lanjut sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Dengan demikian, setiap bentuk dukungan yang melibatkan kementerian perlu melalui prosedur resmi agar pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan kelembagaan.

Selain itu, dalam proses pengajuan rencana kerja sama kepada Menteri Pemuda dan Olahraga, terdapat sejumlah dokumen pendukung yang perlu dipersiapkan. Dokumen tersebut antara lain atensi atau rencana kegiatan, jejak digital organisasi, serta surat rekomendasi dari Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI selaku Dewan Pembina PPI.

Persyaratan tersebut menjadi bagian dari proses administrasi yang perlu dipenuhi untuk mendukung pengajuan kerja sama. PPI menyatakan siap menindaklanjuti arahan tersebut dengan melengkapi dokumen yang dibutuhkan sebagai bagian dari upaya membangun hubungan kelembagaan yang terarah dengan Kemenpora RI.

Dalam konteks pengembangan kepemudaan, ruang partisipasi menjadi salah satu aspek penting agar generasi muda tidak hanya menjadi penerima manfaat dari kebijakan dan program pemerintah. Pemuda juga perlu mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam diskusi, menyampaikan gagasan, menyalurkan aspirasi, membangun jejaring, dan mengambil bagian dalam berbagai proses pembangunan.

Organisasi kepemudaan dapat berperan sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan kapasitas bagi generasi muda. Melalui organisasi, pemuda memiliki kesempatan untuk mengenali persoalan di lingkungan sekitarnya, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, serta membangun gagasan yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Dalam hal ini, PPI berupaya membangun ruang pembelajaran dan partisipasi yang mempertemukan pemuda dengan berbagai pemangku kepentingan. Komunikasi dengan pemerintah diharapkan dapat membuka peluang bagi gagasan generasi muda untuk memperoleh ruang pembahasan dan dikembangkan melalui program yang sesuai dengan kebutuhan.

Melalui penguatan komunikasi dan penjajakan kolaborasi tersebut, PPI berharap semakin banyak pemuda yang memiliki kesempatan untuk belajar, berpartisipasi, membangun jejaring, serta mengambil peran dalam pembangunan Indonesia.

Audiensi dengan Kemenpora RI menjadi langkah awal dalam proses tersebut. Adapun realisasi kerja sama masih menunggu pembahasan lebih lanjut serta pemenuhan persyaratan administrasi sesuai ketentuan yang berlaku.

0/Post a Comment/Comments

Iklan

View