SIGI - Dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026) terus teridentifikasi seiring berlangsungnya proses pendataan di lapangan. Hingga Selasa petang, puluhan warga dilaporkan mengalami luka-luka dan sejumlah fasilitas umum mengalami kerusakan.
Data sementara menunjukkan sedikitnya 29 warga terdampak mengalami cedera akibat gempa. Dari jumlah tersebut, 21 orang mengalami luka ringan, sementara delapan lainnya mengalami luka berat dan mendapatkan penanganan medis.
Kabupaten Sigi menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup signifikan. Di Desa Bora, Kecamatan Sigi Kota, tercatat 21 warga mengalami luka ringan dan satu warga mengalami luka berat.
Sementara itu, korban luka berat juga dilaporkan berasal dari Desa Uwenuni, Kecamatan Palolo, serta Desa Kamarora A dan Desa Kamarora B di Kecamatan Nokilalaki.
Selain menimbulkan korban luka, gempa juga menyebabkan kerusakan pada puluhan rumah warga dan sejumlah rumah ibadah di beberapa wilayah terdampak.
Di Kecamatan Palolo, kerusakan terbesar dilaporkan terjadi di Desa Tongoa. Puluhan rumah warga mengalami kerusakan, disertai dampak terhadap sejumlah keluarga yang tinggal di wilayah tersebut.
Kerusakan bangunan juga tercatat di Desa Lembantongoa dan Desa Ampera. Sementara di Kecamatan Nokilalaki, sejumlah rumah warga di Desa Kamarora A dan Kamarora B mengalami kerusakan akibat kuatnya guncangan.
Di wilayah lain, satu unit rumah warga di Desa Watunonju, Kecamatan Sigi Biromaru, juga dilaporkan terdampak.
Tidak hanya permukiman, beberapa infrastruktur publik turut mengalami kerusakan. Di Kota Palu, Jembatan III Palu dilaporkan mengalami retakan. Sementara di Kabupaten Poso, kerusakan bangunan dan gangguan akses jalan dilaporkan terjadi di kawasan Napu.
Gempa juga memicu tanah longsor di kawasan Gunung Kamarora, Kabupaten Sigi. Material longsor menyebabkan gangguan pada saluran air dan menutup akses menuju Desa Lembantongoa di beberapa titik.
Akibat kondisi tersebut, kebutuhan bantuan darurat bagi masyarakat terdampak mulai menjadi perhatian pemerintah daerah. Sejumlah kebutuhan mendesak seperti tenda pengungsian, terpal, dan pasokan air bersih masih diperlukan untuk mendukung warga yang terdampak.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah bersama BPBD, TNI, Polri, tenaga kesehatan, dan berbagai instansi terkait terus melakukan penanganan darurat serta pendataan lanjutan terhadap korban maupun kerusakan yang terjadi.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, juga telah menginstruksikan percepatan langkah penanganan agar kebutuhan dasar masyarakat terdampak dapat segera terpenuhi.
Hingga berita ini ditulis, proses asesmen masih berlangsung dan jumlah korban maupun tingkat kerusakan masih berpotensi bertambah seiring masuknya laporan dari berbagai wilayah terdampak.

Posting Komentar